ST. DOROTEUS dari GAZA

( 22-03-2019 )

Selagi dalam pendidikan, Doroteus bosan dengan segala macam pelajaran di sekolah. "Lebih baik aku memegang ular daripada membolak-balik buku pelajaran", katanya. Tetapi lama kelamaan ia merubah sikapnya yang konyol itu dan berjuang menghilangkannya. Hasilnya ialah ia kemudian menjadi orang yang amat rajin dan suka belajar serta membaca.

Semangat baru ini kemudian menghantar dia ke dalam kehidupan membiara pada tahun 530 di sebuah biara di Palestina. Kepada rekan-rekannya ia mengatakan: "Jika kita dapat mengalahkan perasaan bosan dan segan belajar sehingga kita menjadi orang yang suka belajar, maka tentunya kita juga dapat mengalahkan hawa nafsu dan menjadi orang kudus". Kata-kata ini menunjukkan tekadnya yang keras membaja untuk mencapai kesem-purnaan hidup lewat cara hidup membiara. Salah satu caranya ialah senantiasa bersikap terus terang, terbuka hati dan pikiran kepada atasan dan rekan-rekannya. Dengan cara ini ia memperoleh ketenangan batin dan semangat dalam menjalani cara hidup membiara. Dalam bukunya ia menulis:"Barang siapa rajin berdoa dan ber-mati-raga serta berusaha sungguh-sungguh menguasai kehendaknya, ia akan mencapai ketentraman batin yang membahagiakan."

Doroteus mencapai kemajuan pesat dalam kehidupan rohaninya dan kemudian mendirikan dan memimpin sebuah pertapaan di Gaza. Ia berusaha memajukan pertapaannya dengan menjalankan pekerjaan-pekerja-annya dengan baik dan menciptakan persaudaraan antar para rahibnya. Ia selalu berlaku ramah terhadap rekan-rekannya. Tahun-tahun terakhir hidupnya, ia mengalami banyak masalah. Godaan dan penyakit merupakan pencobaan besar baginya. Namun ia tetap riang. Kepada rekan-rekannya ia mengatakan: "Tidaklah sukar mencari dan menemukan sebab musabab dari semuanya itu. Baiklah kalau kita mempercayakan diri kepada Tuhan sebab Ia tahu apa yang penting dan berguna bagi kita". Tulisan-tulisan rohaninya sangat bagus, sehingga pada abad ke-17 tulisan-tulisan itu diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Inggris.

Bagi Doroteus, kesucian tidak sama dengan mengerjakan mujizat-mujizat dan/atau menjalankan puasa dan tapa. Semuanya itu memang baik dan berguna. Kesucian itu suatu tindakan menyangkal diri sendiri dan menundukkan kehendak pribadi pada kehendak Tuhan atau menghendaki semata-mata apa yang dikehendaki Tuhan, demi cinta kasih akan Dia. Dengan berusaha mencapai tujuan inilah, maka Dodoteus akhirnya menjadi orang kudus. Pestanya diperingati tiap tanggal 28 Maret.