BUNDA MARIA MODEL KEKUDUSAN

( 04-09-2017 )

Pada hari Minggu ini, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Gereja Timur mulai mempopulerkan perayaan ini sejak abad ke-6, sedangkan Gereja Barat (Katolik) mempopulerkannya pada abad ke-7. Baik di Gereja Timur dan Barat, diadakan prosesi panjang untuk menghormati Bunda Maria. Pada tanggal 1 November 1950, Paus Pius XII menetapkan dogma Maria diangkat ke Surga dengan jiwa dan raganya. Gereja Katolik mau menegaskan bahwa Santa Perawan Maria, pada akhir hidupnya di dunia ini diangkat ke surga dengan jiwa dan badannya. Jadi, meskipun Maria termasuk keturunan Adam namun ia tidak bersekutu dengan dosa. Ia dikandung tanpa noda dosa. Mengapa demikian? Karena ia mengalami perlindungan Allah dengan sempurna.
Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Hari Minggu ini mengajak kita untuk memandang Bunda Maria yang diangkat ke Surga dengan jiwa dan badannya. Penulis Kitab Wahyu menggambarkan secara samar-samar bahwa ada seorang perempuan yang berselubungkan matahari dengan bulan berada di bawah kakinya. Wanita itu melahirkan seorang anak namun bahaya langsung mengancam anak itu yakni seekor naga hendak memangsanya. Namun Tuhan memiliki rencana yang lain karena setelah lahir anak itu langsung dipersembahkan kepada-Nya dan luput dari bahaya. Wanita itu pergi ke tempat yang sudah disiapkan baginya. Wanita ini merupakan gambaran Gereja tentang Bunda Maria. Ia melahirkan Yesus sebagai Putranya. Dialah Yesus yang menyelamatkan manusia.
Ada juga suara yang berseru dari surga: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.” (Why 12:10). Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa Tuhan hadir dalam setiap rencana-Nya. Ia mendampingi umat-Nya untuk bersekutu dalam Gereja untuk berdoa bersama-sama. Keselamatan dan kuasa Allah menguasai seluruh hidup manusia. Sang Pemazmur berkata: “Segala keturunan akan menyebut aku bahagia.” (Mzm 45:10d).
Kata-kata Pemazmur kembali diulangi oleh Bunda Maria