
Dalam Injil Yohanes (Yoh 1:1-10), Yesus memberi keterangan tentang ciri-ciri seorang gembala yang baik, namun sekaligus juga tentang seorang gembala yang tidak baik, yang disebut-Nya sebagai seorang perampok ataupun pencuri. Perhatian, tanggung jawab dan sifat lemah lembut Allah terhadap ciptaan-Nya dilukiskan dengan gambaran seorang gembala. Gembala dan kawanan dombanya digambarkan seperti dalam menghadapi hidup di daerah padang pasir yang kering, untuk mencari padang rumput yang hijau. Si gembala melindungi gerak perjalanan domba-dombanya melawan gangguan dan menunju ke arah ladang yang subur, agar dapat hidup.
Dalam Kitab Suci gambaran tentang gembala sering dipakai juga untuk menggambarkan seorang pemimpin, yang mempunyai tugas memimpin dan melindungi negara dan bangsanya. Dan gambaran tentang seorang gembala juga untuk menunjukkan hak, wewenang dan otoritasnya.
Seorang gembala yang baik, menurut Yesus datang dan masuk melalui pintu, bukan dengan memanjat tembok seperti dilakukan perampok atau pencuri. Kedatangan Yesus Kristus, yang bersabda: “Akulah pintu, barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat; ia akan masuk dan keluar, dan menemukan padang rumput”. Dengan demikian Yesus adalah suatu pintu untuk menghadap Allah.
Yesus memperkenalkan diri sebagai seorang gembala yang baik, yaitu sebagai pintu suatu tempat di mana kawanan domba berada. Yohanes mengingatkan kita kepada keadaan di Yerusalem. Di setiap Bait Allah ada tempat untuk mengumpulkan domba-domba yang akan disembelih sebagai korban. Tetapi juga hanya ada satu pintu untuk untuk domba-domba untuk memasukinya, tidak ada pintu keluar. Dengan situasi itulah Yesus menyebut diri-Nya sebagai pintu, tetapi baik untuk masuk maupun untuk keluar. Artinya ada pintu bagi domba-domba untuk masuk kandang yang aman sesudah meninggalkan tempat yang penuh bahaya, namun sekaligus ada pintu keluar untuk menyelamatkan domba-domba yang akan menjadi korban! Dan untuk menyelamatkan domba-domba-Nya itulah Yesus berkata:“Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan" (Yoh 10:10). Yesus selalu tampil sebagai gembala untuk menyelamatkan, apabila ada seekor domba menghadapi bahaya kehidupan, yakni setiap orang di antara kita yang mengalami pencobaan hidup apapun bentuknya, namun percaya kepada-Nya untuk diselamatkan.
Di samping itu Yesus menegaskan, bahwa siapapun atau kelompok apapun, yang memasuki kawanan domba tetapi tidak melalui Yesus sebagai pintu, menurut Yesus adalah seorang perampok atau pencuri! Tiada seorang pun dapat datang kepada Allah Bapa selain melalui Yesus. Yesus adalah pintu tunggal yang benar untuk masuk atau keluar untuk diselamatkan. Bila ada orang mau masuk atau keluar dalam hubungannya dengan umat Kristiani, tetapi tidak melalui Yesus sebagai pintu, ia adalah pencuri atau perampok.Yesus menyebut diri-Nya sebagai pintu ketika berhadapan dengan kaum Farisi, yang mau mencuri kepercayaan orang kepada Yesus. Sekarang pun kaum Farisi semacam itu masih ada. Yesus tampil sebagai gembala juga sekarang ini untuk menyatukan dan bukan untuk memecah-belah umat-Nya.
Dengan tiga syarat gembala yang baik harus tahu menampilkan pribadi Yesus yang sebagai roti dan pintu hidup yang otentik!
Pertama, Yesus selalu menyediakan diri seutuhnya untuk domba-domba-Nya.
Kedua, Yesus mengenal domba-domba-Nya.
Ketiga, Yesus adalah pintu bagi umat-Nya untuk menuju keselamatan. – Itulah gambaran seorang gembala yang baik untuk umat bagaikan domba.
Saudaraku, bukan hanya si gembala yang harus baik, domba-dombanya yang harus dilindungi harus baik juga. Itulah sebabnya dalam Minggu Paskah IV adalah Minggu Panggilan. Gereja mengingatkan dan menyadarkan segenap umatnya akan martabat dan tanggungjawab mereka sebagai orang yang dibaptis sebagai murid Kristus, bukan hanya agar dirinya sendiri diselamatkan, melainkan juga untuk ikut mengambil bagian dalam karya penyelamatan-Nya itu. Karya penyelamatan Kristus itu diteruskan oleh para imam. Segenap keluarga Katolik tidak boleh bersikap netral atau acuh tak acuh terhadap kewajiban mereka untuk ikut melengkapi kebutuhan Gereja dengan tenaga-tenaga pastoral. Mereka harus membangkitkan, memupuk dan menyumbangkan panggilan imam dalam keluarga bagi pelayanan pastoral Gereja. Tuhan memberkati. (Hd)