ST. LEONARDUS PORTO MORIZIO PENGAKU IMAN

( 07-03-2017 )


Leonardus lahir di Porto Morizio, Italia pada tanggal 20 Desember 1676. Ketika berumur 13 tahun, ia dipanggil ke Roma oleh Agustinus, pamannya untuk dididik di Kolese Yesuit yang dipimpin oleh Santo Philipus Neri. Pamannya menginginkan ia menjadi dokter, namun ia dengan tegas menolaknya. Oleh karena itu, ia tidak lagi diakui oleh pamannya. Sejak itu ia mengatur hidupnya sendiri di Roma tanpa bantuan pamannya.
Pada tahun 1697, ia diterima dalam tarekat Fransiskan di biara Rifomalla di Ponticelli. Oleh pimpinan ordo ia kemudian dikirim belajar di Universitas Roma kemudian ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1703. Bersama dengan beberapa rekannya, ia mengambil alih sebuah biara di Florence pada tahun 1709. Di bawah bimbingannya, biara ini kemudian menjadi pusat karya misi di Tuscany. Dari biara inilah, ia berkeliling ke berbagai tempat untuk berkhotbah dan mengajar umat, teristimewa umat sederhana dari golongan rakyat jelata.
Leonardus dikenal sebagai seorang misionaris Fransiskan yang rajin dan tekun dalam tugasnya mewartakan Injil. Dengan gayanya yang lucu, ia mengemukakan prinsip misionernya: “Berkhotbah kepada orang lain harus dimulai dan diselingi dengan khotbah kepada diri sendiri.”  Leo menghayati semangat hidup miskin dan sederhan yang tinggi sehingga banyak orang terpikat padanya.
Salah satu keistimewaannya yang membuat ia dikenal hingga sekarang adalah kesukaannya merenungkan sengsara Yesus. Ia mengabdikan devosinya ini dan menjadikannya milik semua umat katolik dengan merintis kebaktian “Jalan Salib” lengkap dengan 14 stasinya seperti yang kita kenal sekarang. Ia mendirikan ‘Jalan Salib Kristus’ di berbagai tempat, termasuk di Colosseum, tempat pembantaian dan gelanggang sengsara orang-orang Kristen pertama di Roma. Ia berkata: “Tidak ada sesuatupun yang lebih mulia dan berguna bagi pengudusan diri kita daripada merenungkan peristiwa sengsara Kristus.”  Selain devosi itu, ia juga menjadi perintis devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus dan devosi kepada Bunda Maria.
Sampai usia tuanya ia berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dengan doa-doa pribadi dan perayaan Misa Kudus setiap hari. Pada tahun 1744 ia diutus paus ke pulau Corsica untuk menentramkan suasana pertikaian antar umat di sana. Namun sayang, usahanya ini kurang berhasil. Dalam keadaan payah ia kembali ke Roma dan tak lama kemudian ia meninggal dunia di biara Santo Bonaventura pada tanggal 26 Nopember 1751. Pada tahun 1867 ia dinyatakan sebagai ‘santo’. Pestanya:26 Nopember. (Ursula)